Friday, May 26, 2017

Lost and Found: Together We Face The World


"Aku pulang," samar suara khas Pandu menyelinap ke indera pendengarku. 

"Neng, kamu di mana?" kembali suara Pandu terdengar tapi mataku masih terlalu berat untuk membuka. Lagipula tidak mungkin itu Pandu karena dia baru akan kembali beberapa hari lagi. Seperti biasa, dia harus mengunjungi lokasi untuk memastikan semua berjalan sesuai dengan yang direncanakannya. Kali ini dia harus ke Kepulauan Anambas. 

"Hei," kali ini suara Pandu tidak lagi terdengar samar. Suamiku seakan berada di sampingku yang sedang tidur di daybed dekat jendela ruang tengah rumah kami, "Capek banget, ya?" Kali ini tidak hanya suara tetapi juga belaian lembut di kepalaku. 

"Kang," aku mengerjapkan mata beberapa kali untuk mengusir kantuk yang masih memberati mataku, "Kamu kok ada di sini?" 

"Harusnya aku ada di mana?" 

"Anambas. Kerja?" Aku menurunkan kaki sambil menegakkan punggung dan mendudukkan diriku. 
Pandu tertawa sambil menarikku ke dalam pelukannya, "Sementara besok Ramadan?"

Aku mengangkat kepala dan menatapnya, "Kamu yakin kalau kamu Kang Pandu aku?" 

"100 persen," Pandu mencium bibirku dengan lembut, "Masih nggak percaya?"

"Percaya. Tapi kamu, kan, biasanya menomor satukan pekerjaan." 

"Hm," dia bergumam sambil menggosokkan ujung hidung ke telingaku, "Kadang-kadang. Nggak selalu. Aku juga belajar kalau ada yang harus dinomor satukan selain pekerjaan." 

"Aku?" 

"Keluarga," dia tersenyum lebar lalu menangkupkan kedua tangan di wajahku, "Kamu capek banget, ya?" 

Tuesday, February 28, 2017

Mengapa La La Land Istimewa untuk Aku

Lupa apa film pertama Emma Stone yang aku tonton. Satu yang pasti, dia termasuk salah satu aktris favoritku. Hampir setiap ada film terbaru Emma Stone aku tonton. Beberapa filmnya, seperti Easy A dan The Help, aku tonton berulang kali tanpa bosan. 

Kenapa aku bahas Emma Stone? 

Dia alasan utama kenapa aku tertarik menonton La La Land. Alasan kedua karena aku suka jazz, suka bukan berarti paham, dan langsung jatuh hati ketika mendengar City of Star di youtube. Alasan ketiga karena ada teman yang mengajak (kalau nggak kemungkinan besar aku bakal nonton tapi nanti kalau udah bisa streaming). 


Ekspektasiku ketika menonton tidak terlalu tinggi walau sempat membaca beberapa ulasan dan kicauan yang membahas tentang film ini. Sebagian besar ulasan
dan kicauan bernada positif. Banyak yang menegaskan bahwa La La Land termasuk salah satu film yang wajib ditonton tahun ini. Sayangnya, sahabat yang juga rekan kerjaku memberikan penilaian yang biasa saja setelah dia menonton film ini sehingga sekuat tenaga aku berusaha untuk mengendalikan ekspektasiku. Takut kecewa.

Tapi ternyata film ini tidak mengecewakanku. 

Aku suka. Banget. 

Ulasan dan kicauan bernada positif yang aku baca sebelum menonton tidak berlebihan. Aku menemukan film ini indah. Tapi bukan itu alasan mengapa La La Land menjadi istimewa untukku. La La La Land istimewa karena ide ceritanya, 

Ini pendapatku pribadi, untukku La La Land mengingatkanku terkadang yang kita butuhkan hanya seseorang yang percaya pada kemampuan yang kita miliki dan keyakinan bahwa kita akan berhasil mewujudkan mimpi yang kita miliki. 

Mengingat bagaimana Sebastian dan Mia saling mempercayai mimpi satu sama lain. 

Bagaimana mereka saling menguatkan agar tidak melupakan apa yang sebenarnya menjadi impian mereka. 

Bagaimana jalinan kisah Sebastian dan Mia seakan mematahkan hati dan membuatku meringis tidak percaya sekaligus terasa begitu indah dan menghangatkan di saat bersama. 

Ya, itu alasan mengapa La La Land istimewa untukku. 




NB:
The last scebe was perfect. 
Until now I still can't find word to describe it



Saturday, February 11, 2017

Lost and Found: Extra Part


Every love story is beautiful, but ours is my favorite one

"Neng," Pandu bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari buku arsitektur yang sedang dibacanya. Tangannya masih memainkan tanganku sambil sesekali mengelus perutku yang terlihat super besar karena kehamilanku sudah memasuki minggu ke-28. 

"Hm," terlalu nyaman dalam pelukannya hingga aku hanya memberikan gumaman sebagai jawaban tanpa membuka mata atau melepaskan kedua tanganku yang memeluk lehernya. 

"Hari ini kamu mau saya temenin ke mana?" 

"Nggak ke mana-mana," aku memperbaiki posisiku dalam pelukannya. 

"Mau ditemenin ngapain gitu?" 

Aku kembali menggelengkan kepala, "Nggak mau ngapa-ngapain. Aku cuma pengin gini aja." 

Saat ini Pandu sedang asyik membaca salah satu buku arsitektur koleksinya sambil melurukan kaki di ottoman sementara aku berada dalam pelukannya. Aku tidak melakukan apa pun keciali mendengar detak jantung dan memenuhi indera penciumanku dengan aroma tubuhnya. Sesekali angin dari halaman belakang akan menerbangkan vitrase dan langit biru akan terlihat mengintip. Sejak menikah kami memang memutuskan untuk kembali mendiami rumah Papa. 

Pandu bersikeras membayar seluruh biaya renovasi dan interior untuk mengisinya walau tentu saja aku memnuhi setiap sudut rumah dengan benda kesukaanku. Rak buku berwarna putih dengan desain skandinavia di sudut ruangan ini selain terisi buku-buku koleksi Pandu juga penuh sesak dengan koleksi snowglobe-ku. Sofa putih di ruang tamu menjadi kanvas bagi sarung bantal dengan warna dan motif ceria yang aku jahit sendiri. Ruang makan dan dapur tentu saja penuh dengan barang-barang kesukaanku. Kecuali salah satu sudut kulkas tempat Pandy menyimpan sekotak besar susu full cream rasa strawberry dan berkotak-kotak strawberry. 

Kamar tidur kami tentu saja didominasi warna putih, warna kesukaanku. Di salah satu sudutnya Pandu meletakkan sofa hitam yang dulu ada di kamarnya berdampingan dengan sofa putih milikku. Dulu kami sering menghabiskan waktu sebelum tidur di sana. Pandu dengan buku atau mencoret-coret desain yangs edang dikerjakannya dan aku dengan rajutan atau sulaman yang belum selesai. Kamar masa kecilku diubah Pandu menjadi ruang kerjanya. Satu-satunya bagian rumah yang aku izinkan untuk terlihat berantakan. Berantakan yang terstruktur kata Pandu, suamiku. Interior dan berbagai barang di rumah ini menggambarkan dengan baik bagaimana kami berkompromi dengan kesukaan dan kebiasaan masing-masing. 

"Yakin?" 

"Aku capek dan ada hari-hari di mana aku cuma pengin sembunyi dalam pelukan kamu, Kang. Sebentar aja pengin kabur dari dunia nyata, hari ini salah satunya," aku merapatkan sweater-ku walau matahari pagi melimpahi setiap sudut ruangan.

"Oke," dia meletakkan buku yang sedang dibacanya lalu mencium kepalaku, "Seharian kita bakal malas-malasan kayak gini."

"Bukan malas-malasan," aku tersenyum, "Recharge."

"Hmmh," dari gumamannya aku tahu kalau Pandu sedang tersenyum konyol saat ini, "Apa
pun yang Tuan Putri inginkan."

Selama beberapa saat kami berdua asyik dengan pikiran kami masing-masing. Membiarkan hening menyelimuti. Kenyamanan yang sudah lama tidak aku rasakan. Bukan karena kehamilanku tapi karena semakin berkurangnya waktu yang dimiliki Pandu untuk dihabiskan bersama denganku.

"Kamu makin sibuk belakangan ini, Kang," aku membiarkan Pandu mengusap perutku.

"Maaf," salah satu hal yang aku suka dari Pandu dan membuatku berulang kali jatuh cinta. Dia tidak pernah mencari pembenaran atau memberikan berjuta alasan. Ketika dia menyadari kesalahannya dengan besar hati dia akan mengucapkan maaf. Seperti sekarang ini.

"Neng nggak butuh maaf kamu, Kang. Yang Neng butuhin cuma kamu dan waktu kamu," aku meletakkan tanganku di atas tangannya.

Tidak ingin hari yang langka seperti ini berubah menjadi mimpi buruk aku memilih untuk diam dan kembali memejamkan mata dalam pelukannya.

"Neng," Pandu yang tadi terlihat santai sekarang menegakkan punggungnya. Kedua tangannya berada di atas perutku, "Dia nendang, Neng! Ya Allah, dia..itu tadi tendangan pertamanya, kan?"

Aku memutar dudukku hingga sekarang aku duduk di sampingnya. Tidak lagi berada dalam pelukannya, Sejujurnya aku tidak ingin merusak kebahagiaan yang dirasakan oleh Pandu tapi dia tidak memberikan pilihan lain, "Itu bukan tendangan pertamanya. Tendangan pertamanya beberapa minggu yang lalu waktu kamu di," aku mengangkat bahu, "Aku nggak tahu kamu di mana."

"Kok kamu nggak cerita?" Ekspresi Pandu membuat hatiku seketika teriris perih.

"Gimana aku mau cerita kalau kamu nggak pernah punya waktu buat aku?" Aku menunduk mengusap perutku berulang kali, "Seharusnya kita ngejalanin ini berdua, Kang. He is ours, right? Not mine, not yours."

"HE? Bayi kita laki-laki?!"

"Hasil USG kemarin, ya, dia laki-laki."

"Kamu nggak ngerasa harus ngasih tahu saya?" Kali ini nada suara Pandu terdengar tidak menyenangkan. Seakan menuduhku melakukan sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan. Salahkan hormonku yang sedang tidak stabil karena nada suaranya membuatku kesal sekaligus marah.

"Gimana aku mau kasih tahu kamu kalau kamu baru pulang setelah aku tidur dan tadi pagi selesai subuhan kamu langsung masuk ke ruang kerja kamu?!" Aku tidak berusaha untuk menahan air mataku. Kali ini aku membiarkan Pandu untuk mengetahui apa yang aku rasakan selama ini, "Seharusnya kita ngejalanin ini bareng-bareng, Kang! Aku capek sendirian. Waktu pertama kali aku tahu aku hamil, kamu di Shanghai, kerja. Waktu pertama kali aku kontrol kehamilan, kamu di mana? Hongkong, meeting penting."

"Aku bukannya nggak senang Akang balik ke dunia arsitektur. Aku senang karena aku tahu itu dunia Akang. Tapi nggak gini, Kang," aku mengigit bibir bawahku, "Aku nggak tahu harus ngasih alasan apa lagi kalau dokter atau ibu-ibu di ruang tunggu nanyain suami aku ke mana."

"Konyolnya," aku mengusap air mataku dengan punggung tangan, "Konyolnya tiap kali aku pengin sesuatu, nasi goreng dukduk tengah malam buta, bakso waktu dini hari sampai es krim, siapa yang aku hubungin, Kang? Bukan kamu. Aku malah hubungin Reihan karena kamu nggak ada di samping aku. Kamu nggak ada, Kang!"

Dengan sisa tenaga aku bangun dari duduk. Ketika Pandu mengulurkan tangan untuk membantu aku segera menepisnya, "Selama ini kamu maksa aku untuk sendirian. Aku udah terbiasa buat berjuang sendirian. Jangan rusak itu sekarang dengan perhatian nggak penting kamu."

"Neng," dia menjilat bibirnya, "Illa."

Aku tidak memedulikan panggilannya. Dengan tertatih aku berjalan menuju kamar. Sengaja tidak mengunci pintu karena berharap Pandu menyusulku. Dengan sisa tenaga aku memanjat tempat tidur lalu aku berbaring menyamping dan berusahameluruskan punggung yang mulai terasa pegal kemudian memejamkan mata.

Kenapa jadi gini? Ketika Pandu kembali menekuni dunia arsitektur, proyek awalnya hanya berupa proyek kecil seperti mendesain rumah tinggal, merenovasi bangunan lama atau mendesain pusat pertokoan baru. Tapi itu tidak berlangsung lama. Ketika mantan rekan dan atasan Pandu mengetahuinya, tawaran untuk mengerjakan proyek besar mulai berdatangan dan Pandu memilih untuk tidak menolaknya.

Awalnya semua berjalan sempurna. Beberapa kali dalam sebulan Pandu harus mengunjungi lokasi untuk analisa lahan atau inspeksi lapangan. Kami seperti menjalani long distance relationship. Berkirim pesan singkat hampir sepanjang hari di sela kesibukan kami masing-masing, telepon di malam hari tidak peduli selelah apa dan perbedaan waktu di Bandung dan lokasi Pandu. Ketika Pandu pulang kami akan melepaskan kerindukan. Memabukkan sekaligus membahagiakan.

Entah sejak kapan jumlah pesan singkat kami berkurang drastis. Dari yang sepanjang hari menjadi hanya sapaan ketika memulai dan mengakhir hari. Telepon juga. Sesekali. Ketika tidak terlalu lelah atau tidak terlalu malam atau tidak ketiduran atau...ada banyak alasan yang bisa digunakan untuk membenarkan kenapa tidak menelepon. Saat itu aku masih tidak mempermasalahkannya. Ketika bertemu kami akan menghabiskan waktu bersama. Seakan tidak terpisahkan. Aku tahu dia masih Pandu yang sama dengan pria yang aku nikahi dua tahun yang lalu. Hanya saja...

***

Aku kembali terbangun untuk kesekian kalinya. Salah satu hal yang membuatku tidak nyaman selama masa kehamilan adalah harus berulang kali terbangun untuk ke kamar mandi di malam hari. Sebelum turun dari tempat tidur aku menjulurkan tangan ke samping, kosong. Ke mana Kang Pandu?
Sambil turun aku memperhatikan jam yang ada di nakas samping tempat tidur. Hampir pukul tiga dini hari. Seharusnya Pandu sudah sampai di rumah sejak pukul dua belas. Seingatku, Pandu mengatakan kalau pesawatnya mendarat sekitar pukul sembilan di Bandara Soekarno-Hatta dan paling telat pukul dua belas dia sudah ada di rumah. Aku mencari smartphone dengan panik. Takut kalau Pandu berusaha menghubungi tapi aku tidak mendengarnya. Tidak ada notifikasi apapun.

Setelah dari kamar mandi aku memutuskan untuk ke ruang keluarga menunggu Pandu. Menyelimuti tubuhku dengan selimut, menyalakan mode torch di smartphone karena terlalu malas menyalakan lampu, sinar lampu juga membuat mataku silau. Telingaku menangkap suara yang seharusnya tidak ada ketika kakiku menjejak ruang keluarga. Penasaran sekaligus ketakutan aku menajamkan telinga untuk mencari tahu sumber suara.

Dari kamar bayi? Beberapa minggu yang lalu aku memutuskan untuk mengubah salah satu kamar tamu menjadi kamar bayi dan ruang untuk aku menyusui nantinya. Aku sudah membicarakannya dengan Pandu. Dia mengatakan akan menyelesaikannya tapi karena kesibukannya lagi-lagi itu hanya menjadi sebuah janji. seminggu yang lalu aku meminta Roni untuk mengecat dan sisanya akan aku selesaikan nanti. Walau sekarang aku masih belum tahu bagaimana harus merangkai seluruh perabotan bayi pesananku yang kardusnya memenuhi kamar itu.

Sinar lampu yang terlihat dari sela pintu yang tidak tertutup rapat membuat ketakutanku sedikit berkurang. Pencuri tidak mungkin sengaja menyalakan lampu, kan? Sambil menyeret selimut aku menghampiri kamar bayi. Pemandangan yang ada di depan mataku ketika membuka pintu kamar bayi membuatku tidak mampu menahan air mata. Air mata haru sekaligus karena perasaan bersalah.

Pandu tertidur di samping tempat tidur bayi yang baru selesai dirangkainya. Dia masih mengenakan kemeja putih dan jeans, aku yakin itu pakaian yang sama yang dikenakannya selama penerbangan, blazernya disampirkan asal di salah satu kardus yang sudah terbuka. Melihat jumlah kardus yang sudah dibukanya aku yakin dia hampir selesai merangkai seluruh perabotan.




Setelah mengusap air mata aku mengedarkan pandanganku. Berbeda dengan terakhir kali aku mengunjungi kamar ini, sekarang interiornya sudah mulai terlihat. Baby cribs dengan tirai putih sudah terpasang dan diletakkan di samping nakas yang tepat berada di tepi jendela yang menghadap ke halaman belakang. Nakas ini juga berfungsi untuk mengganti popok bayi kami nanti. Sesuai dengan keinginan yang aku ceritakan kepada Pandu di sela sarapan. Ternyata dia memperhatikanku.

Di samping jendela Pandu meletakkan sofa berwarna putih dengan beberapa bantal lembut. Tempat aku menyusui. Dia juga sudah menarik ottoman dari ruang keluarga ke kaamr bayi mungkin untuk memastikan kenyamananku. Rug tebal dengan kombinasi hitam dan putih memenuhi lantai di depan cribs. Di salah satu dinding Pandu meletakkan rak buku yang sebagian berisi boneka dan mainan pilihanku sementara sebagian yang lain penuh dengan buku cerita pilihannya. Pandu juga sudah merangkai kuda-kudaan kayu bercat putih yang aku beli hanya karena aku suka. Berapa lama dia sudah membongkar kardus, merangkai dan menatanya?

Aku menyampirkan selimut di punggung Pandu lalu aku duduk di ottoman yang sebelumnya sudah aku tarik ke sampingnya. Perlahan aku menggusap rambutnya. Terlalu takut untuk membangunkannya.

"Hei," ternyata ketakutanku menjadi nyata. Pandu terbangun, "Maaf, aku ngebangunin kamu, ya, Neng?"

"Nggak, kok. Neng ngebangunin Akang, ya?" Aku merasa bersalah dan air mata kembali menggenangi mataku.

"Lho, Neng kenapa?" Pandu bangun dan mengusap air mata di mataku dengan kedua jarinya, "Akang bikin Neng nangis lagi, ya?"

Aku menggelengkan kepala dengan lemah.

"Terus kenapa?" Pandu menatapku dengan bingung.

"Neng ngerasa kalau udah jahat banget sama Akang. Belakangan ini tiap kali kita ketemu yang ada Neng marah-marah ke Akang. Neng..."

"Ssssthhh," Pandu meletakkan telunjuknya di bibirku, "Neng nggak salah. Akang yang salah. Neng benar, harusnya kita ngejalanin ini berdua. Dan selama ini memang Akang jarang ada buat Neng."

"Akang sibuk. Harusnya Neng bisa kompromi dengan itu karena Akang sibuk ya buat Neng dan bayi kita, kan?"

"Kamu tahu," Pandu tersenyum dan bahkan setelah dua tahun menikah dengannya senyumnya masih menghasilkan efek yang sama kepadaku, "Setelah yang kemarin itu, yang Akang kira kalau itu pertama kalinya bayi kita nendang," dia menjelaskan karena aku menatapnya bingung, "Akang sadar kalau selama ini Akang lupa satu hal penting. Kamu sama bayi kita butuh kehadiran Akang, sebagai suami, sebagai ayah, bukan sebagai mesin penghasil uang."

Dia sekarang duduk di lantai, tepat di hadapanku yang masih belum beranjak dari ottoman. Pandu menggenggam kedua tanganku lalu menatapku lama, "Waktu kita pertama kali ngejalin hubungan, kamu minta kita ngejalanin pelan-pelan, kan?"
Aku menganggukkan kepala.

"Akang baru aja terbiasa dengan peran jadi suami," dia melanjutkan ucapannya, "Terbiasa ngejadiin kamu prioritas utama saya. Sekang kita udah harus bersiap untuk peran baru. Saya tahu, konyol kalau saya minta kita ngejalanin ini pelan-pelan karena dalam hitungan minggu bayi kita bakal lahir. Tapi boleh aku minta kamu untuk selalu ngingetin saya?"

"Ngingetin apa?"

"Ingetin saya kalau saya lupa nunjukin perasaan sayang saya ke kamu. Ingetin kalau saya mulai tenggelam di pekerjaan saya. Ingetin saya kalau nanti saya kurang ngasih waktu untuk Neng dan bayi kita. Akang mohon Neng ingetin Akang. Jangan ngambek atau berharap Akang ngerti karena Akang nggak pernah tahu harus gimana kalau Neng ngambek. Akang juga bukan cenayang yang ngerti kalau kamu nggak ngomong apa-apa."

Aku kembali menganggukkan kepala.

Pandu menempelkan telinganya ke perutku, "Maaf karena selama ini saya nggak cukup ada buat kamu. Dan buat bayi kita." Pandu meletakkan dagunya di perutku lalu menengadah menatapkku, "Saya juga nggak bisa janji kalau setelah ini saya akan selalu ada. Tapi saya bisa janji satu hal, saya akan selalu berusaha untuk jadi suami dan ayah terbaik. Buat kamu dan anak kita."

"Aku nggak minta kamu janji apa-apa, Kang. Asal kamu berusaha itu udah cukup buat Neng." Aku mengusap sudut mataku, "Maaf kalau belakangan ini Neng marah-marah dan ngambek mulu, ya?"

"Pengaruh hormon, kan?" Pandu berlutut kemudian tanpa terduga mencium bibirku. Ciuman rasa strawberry yang aku candu, "Selama masih bisa, salahin aja hormon kamu yang naik turun, Neng."

Pandu berhasil membuatku tertawa sambil menangis haru. Dia kembali mengusap sudut mataku lalu mencium bibirku dengan lembut. Tidak menuntut. Seakan dia hanya ingin memberitahu sebesar apa dia mencintaku. Ciuman rasa strawberry yang selalu aku candu.

Pernikahan kami memang tidak sempurna. Tidak ada pernikahan yang sempurna karena bagaimana pun ini bukan dongeng. Pernikahan tidak selalu berjalan mulus dan mudah. Tapi bukankah itu intinya? Pernikahan selalu tentang menghadapi berbagai hal, mulai dari yang membahagiakan, menyedihkan, tantangan, segalanya bersama dan tidak pernah melepaskan?

Seperti yang mungkin sering dikatakan oleh orang tua, pernikahan bukanlah akhir. Pernikahan merupakan awal. Sebuah awal yang setiap jam, menit dan detiknya berharga karena melaluinya bersama orang yang tepat. Orang itu Pandu untukku. Bersamanya aku siap menghadapi apapun karena aku tahu dia tidak akan pernah melepaskan genggamannya dan akan selalu mengusahakan yang terbaik dari dirinya. 

I lost my heart to found my soulmate. 




Tuesday, May 31, 2016

Kenapa Aku Tidak Percaya Writer's Block

Well, anggap saja aku ini bisa dikatakan sebagai seorang penulis. 

Pertanyaan yang paling sering dan selalu ditanyakan setiap kali ada sesi tanya jawab, baik di media sosial ataupun melalui surel pribadiku adalah: pernah mengalami writer's block? Apa yang aku lakukan ketika mengalaminya? 

Writer's block. Dua kata yang dianggap momok bagi para penulis. 



Sebagai orang yang dekat dengan dunia kata dan bekerja dalam sunyi hanya bertemankan huruf dan kata untuk dirangkaikan, ketidakberhasilan merangkai kata menjadi cerita adalah sesuatu yang mengerikan. Seakan dikhianati oleh orang yang paling kita percayai. 

Tapi benarkah writer's block itu nyata? 

Secara pribadi aku tidak pernah percaya ada kondisi yang bernama writer's block. Tapi tolong dicatat ini adalah pendapat pribadiku. 

Lantas, apakah ini berarti aku selalu berhasil merangkai kata? Sayangnya tidak. Tapi aku tidak menyalahkan writer's block. 

Aku selalu berpendapat kalau manusia adalah sebuah wadah kosong. Tugas kita adalah mengisi wadah itu dengan berbagai pengetahuan yang kita dapat baik karena kita mempelajarinya atau hasil dari pengalaman. Ketika kecil kita belajar berjalan dengan meniru orang di sekeliling. Bertambah usia, cara kita mengisi wadah itu berubah. 

Kita bisa menambahkan sebanyak apa pun jika wadah itu kosong. 
Termasuk ide, kreativitas dan imajinasi. 

Ketidakmampuan untuk merangkai kata adalah kondisi ketika wadah yang kita miliki penuh. Mungkin karena terlalu banyak masalah, emosi yang sedang tidak stabil, terlalu banyak yang harus dikerjakan dan berbagai kondisi lainnya yang membuat wadah itu penuh. 

Sekuat apapun kita berusaha, selama wadah itu tidak kosong, kondisi itu akan tetap sama. 

Sebelum memulai menulis atau men-develop ide baru, aku membiasakan untuk mengosongkan wadahku yang aku miliki. Menyiapkan wadah itu agar mampu menerima ide, kreativitas dan imajinasi apapun yang aku butuhkan untuk menyiapkan draf tersebut. Walau bukan berarti aku tidak pernah mengalami ketidakmampuan untuk merangkai kata. Aku pernah dan sering mengalaminya. Aku tidak menyalahkan writer's block, aku memilih untuk mengosongkan wadahku. 

Jadi, sudahkah kosong wadahmu hari ini? 



Friday, May 6, 2016

Il Tiramisu, Serial Yummylit Terbaru dari Bentang Pustaka

Kinda speechless karena naskah ini akhirnya terbit juga!



Di antara seluruh naskah yang pernah aku kerjakan, naskah ini kadar drama ketika proses penulisan tinggi banget. Bahkan sejak mengajukan ide cerita dan sinopsis ke Mbak Noni, editor fiksi Bentang Pustaka ketika itu, sampai ketika novel dinyatakan siap cetak. 

Sebelum ide cerita ini di setuju, aku mengajukan empat ide cerita lain yang ditolak oleh Mbak Noni. 
Sebenarnya Mbak Noni nggak nyuruh aku untuk mengubah atau mengajukan ide yang berbeda hanya menyarankan beberapa perombakan, tapi prinsipku, daripada merombak lebih baik mengajukan ide yang benar-benar baru. Well, mungkin ini yang bikin lama yaa...

Aku menyusahkan banyak orang dalam proses kreatifnya. Sebagian penulis bisa menulis bahkan ketika mereka belum menemukan akhir untuk cerita yang sedang mereka kerjakan, tapi aku nggak bisa. Nah, prosesku menjalin kisah Il Tiramisu dari awal sampai akhir ini yang menyusahkan beberapa sahabat. Yang paling parah Atria sampai menggebrak meja di sebucah cafe di Bandung, Amel yang harus mendengarkan ocehanku via Whatsapp di tengah malam dan Elsa yang lelah menghadapi keabsurdanku di email. Gara-gara naskah ini mereka juga kayaknya udah terbiasa mendengarku yang tiba-tiba bilang pengin ngerombak dari awal. Naskah yang berhasil selesai dan yang akan kalian baca itu merupakan naskah ke lima belas. Yak! Aku menulis ulang sebanyak lima belas kali bahkan lebih sebelum benar-benar merasa sreg dan bisa menyelesaikannya. 

Ini juga pertama kalinya aku menggunakan PoV 3 atau sudut pandang orang ketiga. Proses adaptasinya juga luar biasa. Aku berulang kali merasa nggak yakin dengan hasil tulisanku. Berulang kali merasa kalau tidak berhasil menyampaikan emosi para tokohnya. Dan lagi-lagi, aku menyusahkan banyak orang.Selain itu, untuk mempermudah proses adaptasi, aku berhenti membaca novel yang menggunakan PoV 1 atau sudut pandang orang pertama. Tapi ternyata tetap tidak berhasil membuatku benar-benar yakin dengan hasilnya sampai-sampai ketika mengirimkannya ke Dila, editor fiksi Bentang Pustaka sekarang, aku bilang kalau aku menyerahkan keputusan sepenuhnya ke Dila karena aku sendiri nggak yakin dengan hasilnya. Jadi, sekarang aku deg-degan dengan komentar dan reaksi kalian yang membaca Il Tiramisu. 

Seperti biasa, ketika naskah aku kirim ke Dila, jumlah halamannya kebanyakan. Sangat kebanyakan. Sehingga PR selanjutnya adalah menyunting naskah hingga jumlah halaman sesuai dengan standar Bentang Pustaka. Dan ini nggak mudah. Banyak adegan yang menurutku penting terpaksa dihapus karena menurut Dila tidak terlalu signifikan. Semoga nggak mengganggu keasyikan kalian menikmatinya. 

Dan drama yang bikin aku dan Dila super panik baru terjadi beberapa minggu yang lalu. Di suatu pagi dalam perjalanan ke kantor aku iseng baca pdf final yang dikirim ke aku dan...aku menemukan kalau ada salah peletakan bab. Bab kesekian puluh entah bagaimana bisa muncul di awal-awal. Sumpah! Panik banget karena itu konteksnya udah naik cetak. Gegara ini, aku sampai nangis di angkot. Benar-benar nangis di angkot. Hahahahha. Untungnya sebelum sampai kantor dapat kabar baik dari Dila kalau pdf yang dikasih ke tim produksi benar. Huuft! Lega banget rasanya. 

Sekian cuap-cuap aku tentang Il Tiramisu yaa~
Maaf kalau terkesan nggak fokus, aku masih deg-degan banget nunggu reaksi para pembaca. Terutama karena tone-nya beda banget sama My Wedding Dress!

Akhirnya, kalau menemukan Il Tiramisu di toko buku, langsung adopsi dan selesai membaca langsung kasih tahu aku pendapat dan kesan kalian, ya!